Hidup Santri !

06Sep08

Sejak jaman dulu kaum santri selalu terpinggirkan oleh masyarakat. Bahkan, pesantren dianggap sebagai tempat pembuangan anak-anak nakal. So, santri yang menjadi cetakan pesantren dari Antik (anak nakal telah insyaf kembali). Ketika mereka mencari pekerjaan sebagai pegawai, pasti syahadah mereka nggak bakalan diterima. Wong nggak sesuai dengan ijazah yang lain, kok. Mereka mengira bahwa santri hanya bisa menjadi imam plus tukang doâ, dan biasanya pak modin, tok.

Dalam paradigma masayrakat santri identik dengan orang yang memakai baju kokoh dan memakai sarung sambil membawa kitab kuning. Pendidikan mereka di pesantren hanya seputar agama. Tak lekang oleh zaman. Santri hanya disuruh jadi marbot masjid atau kalau nggak jadi imam.

Kaum santri yang merasa dipinggirkan (yang merasa saja) perlu mengembangkan ilmu kesantriannya untuk diaplikasikan ke masyarakat. Mereka harus menguasai berbagai skill yang dibutuhkan oleh masyarakat. Jadi tak hanya menguasai agama tok.

Tapi, tak dapat dipungkiri. Santri sekarang mulai maju. Dari warga kelas dua, naik jadi warga kelas satu. Santri yang dulu ndudhul komputer belum pernah, sekarang malah gape.Bahkan, kitab-kitab kuning mereka dijadikan ebook.

Padahal pesantren tempat mencari ilmu bagi mereka, adalah system pendidikan yang asli buatan Indonesia. Sistem itu tidak ada di luar negeri manapun. Sistem sekolah yang dinamis dalam asrama. Dinamika pesantren berlangsung selama 24 jam di dalam kampus.

Gontor, sebagai pesantren global yang memilki 18.000 lebih santrinya baik putra maupun putri dan mempunyai 11 cabang untuk putra dan 5 cabang untuk putri. Pondok tersebut tetap eksis di berbagai era karena sistem pendidikannya tidak seperti pesantren lainnya. Gontor menerapkan sistem yang klasik, yaitu sistem pengajaran yang diadakan di kelas.

Alumni-alumni dari Gontor banyak yang belajar di Timur tengah. Tak jarang sebagian besar dari mereka mendapat prestasi yang gemilang di sana. Kiprahnya di masyarakat sudah sangat banyak. Beberapa dari mereka menjadi ketua di pelbagai oraganisasi. Gontor menjadi trademark pesantren masa kini.

Santri selain didikan Gontor bagaimana ? Memang bukan santri Gontor saja yang berprestasi di luar. Ketika saya baca majalah Hidayatullah, dirubrik Jelajah. Saya membaca ada santri dari Lirboyo yang sedang belajar Di Amerika mengarang buku kaidah tata bahasa Arab yang sistematis. Mungkin masih banyak lagi santri yang berprestasi.

Pejuangan memperebutkan kemerdekaan bangsa ini tak lepsa dari peran santri. Hizbullah (bukan hizbullah yang di Lebanon)adalah brigade khusus untuk mem[pertahankan kemrdekaan NKRI ini. Ormas-ormas seperti NU dan Muhammadiyah juga mempunyai gerakan pemuda yang bernama GP Anshar dan Hizbul Wathan. Firqoh tersebut kebanyakan diketuai oleh kalangan santri. Banyak juga pahlawan RI yang pernah nyantri. Semisal KH Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, H.O.S Cokroaminoto, Jendral Sudirman, dan masih banyak yang belum disebutkan.

Kaum santri memang harus maju dalam semua segi. Karena santri adalah penerus bangsa. Jangan kalah dengan orang-orang yang belum pernah menjadi santri. Karena pendidikan pesantren adalah pendidikan terbaik. Oleh karena itu santri harus maju. Hidup santri ! Hidup santri !



One Response to “Hidup Santri !”  

  1. santri memang oke. setauku, tempat belajar yang oke itu selain Gontor, ada Assalaam dan Mu’allimin. trus ada juga yang bagus di Sumatera (Pekanbaru apa ya? lupa)

    yang lulus dari Assalaam, Mu’allimin dan pesantren di Pekanbaru (Darul Najah apa ya? lupa)…. juga ada yg melanjutkan studi ke timur Tengah.

    lima tahun yang lalu, Assalaam, Mu’allimin, Gontor masih bersaing. bagus bagus maksudnya…. semoga saja semakin banyak yg bagus.

    hormat saya,
    Hidayatullah (pas baca ada nama saya juga)


Leave a Reply